Perjalanan Bidak Sebagai Budak

/1/
kulahir dari denting jam yang mendengung setelah
harapan bagai ketuban pecah. terdengar
lantunan adzan ayah
tak lebih bising dari suara batinnya
“kau, harus sampai pada kotak seratus!”
tanda seru menancap di ubun-ubunku
/2/
ibu lemparkan nasib, jatuh
menimpa punggungku
meninggalkan enam goresan
dan kumulai berjalan. berhenti
pada kotak dengan jalan
pintas. kupikir bahwa lebih cepat
tidak melulu sebuah keberuntungan
/3/
sekali lagi kesempatan
enam langkah, kujatuh
cinta pada keelokan putri ular
dungu melesat pada licin cumbunya.
antar kukembali ke kotak pertama: jalang!
/4/
kesempurnaan di kotak seratus ialah
teluh sejak dalam naung denting jam kelahiran. ketika
suara batin ayah kian bising
kutancapkan tanda seru pada ubun-ubunnya.
Nganjuk, April 2017.

Tentang

Tentang aku dengan ribuan angan yang kini membakar kepala tuannya.

Tentang wanita pemilik rahim yang pernah kusinggahi, baginya bahagia ialah apa yang melegakanku.

Tentang lelaki tua yang meludahkan harapan di atas pundakku dan tubuh renta yang selalu ingin ia kelabuhi.

Tentang dia, lelaki muda. Yang tak pernah ingin aku pergi. Aku selalu berharap Tuhan merawat sebuah ikatan dengan cara yang tidak rumit.

 

Nganjuk, Desember 2016.

Pelangi Sebelum Senja

Ada cemas membias di langit timur sore tadi.
Ia mengaku sebagai pelangi.
Siapa yang tak mengagumi.
Mejikuhibiniu melengkung penuh puisi.

Sedang di langit barat.
Senja menggantungkan harap, agar tak segera lenyap.
Namun tetap saja, pekat malam serupa janji akan kematian.
Selalu tepat.

Surabaya.

Barangkali Kau…

Barangkali kau asing?
Sebelum apa-apa masihlah kebisingan yang semu di duniaku.
Hingga aku mengenal puisi, dimana aku hidup dalam puisi, dan di perkenalkan denganmu lewat puisi.

Barangkali kau teman?
Tempat segala usaha menjadi sempurna, agar kau melihatku, agar kau memperhatikanku.
Bahwa “Hey!, ada aku disini, perempuan yang diam-diam mengagumi, tak hendakkah kau menggapaiku?”

Barangkali kau kekasih?
Segala keasingan lenyap.
Cinta.. Diriku penuh kamu, cinta..
Hujan malam itu, cinta…
Aku peluk, kita berpeluk, basah keringat di punggungmu.
Kita rayakan rindu, cinta..

Barangkali kau sahabat?
Tak pernah membuatku berpikir untuk merubah diriku layaknya barbie bahkan sailor moon.
Dengan segala kurang, aku masih diriku sendiri hingga sekarang.

Barangkali kau ayah?
Lelaki sepertimu mungkin memang hanya ada satu.
Atas segala bedamu.
Adalah kau ayah yang ku sanjung.

Barangkali kau musuh?
Tapi nyatanya aku tau kaulah yang lebih dapat meredam segala murka tanpa memecah belahkan cinta.

Barangkali kau akan kembali menjadi asing?
Saat dunia kita tak lagi sama.
Saat nantinya cinta hanya antara gundukan tanah dengan nisan.
Saat salah satunya sibuk menyeka air mata dan salah satunya lagi telah dalam keheningan menyiapkan diri untuk siksaan atau mungkin pengampunan?
Semoga saatnya nanti, tangis bukan perihal kehilangan, melainkan linangan doa-doa peminta ampunan.

                                Surabaya 2015.

Puisi adalah ribuan rasa, yang rahasia, dari kata-kata.

Perempuan: Puisi

Kukenali kamu, kekasihku, dengan puisi, yang membuat simpati ada. Puisi, yang akan mekar menjadi bermacam rasa.

Kukenali kamu, kekasihku, dalam doa cinta. Di mana puisi-puisi menjadi doa, yang mendekatkanmu dari suka cita

Maka, doa dan cinta, akan menjaga kecemasan dan kesunyianmu, yang tak pernah mampu terjangkau nalarku.

Laki-laki: Mimpi

Kekasihku, aku telah belajar merasakan peristiwa, lewat puisi-puisimu yang lembut dan menanggung badai lelaki.

Telah kita lewati mimpi demi mimpi yang penuh keraguan. Mimpi yang seram – mimpi yang selalu mengingatkan pada kecemasan kita yang terlampau jauh dan besar.

Mimpimu yang megah, telah meyakinkanku. Kebangkitan, seperti juga Tuhan, hanya dibutuhkan saat kita merasa kalah.

Laki-laki: Janji

Janji dan sebuah ciuman, kadang lebih berharga dari apa pun yang kita pertaruhkan.

Dan aku masih saja menduga-duga, lebih berat mana: janji ataukah ciuman, yang kita nantikan sekian lama.

Di tubuhku: ada gores badik memanjang, menggaris dadaku. Seakan lubang yang dipersiapkan bagi ketabahankku.

Perempuan: Airmata

Seorang lelaki menulis: tangis ialah tawa terakhir, sebelum pedih mulai membasuh mata.

Tapi apalah artinya Airmata, kekasihku, bila kita terbiasa dalam kesedihan.

Tangis hanyalah candaan. Sedang dada selalu memiliki caranya sendiri, untuk bersepakat dengan doa.

Betapa kucintai, ketabahanmu. Sebab getarmu menggetarkan sunyi. Dan langit seakan merestui, saat tangismu menggenapi tangisku.

Puisi dari @jazirahrasa
Januari 2015
*terinspirasi dari sajak-sajak agus noor: Cinta adalah Ribuan Peristiwa dalam Satu Kepakan Kupu-Kupu

Menit Empat Puluh Tujuh

Larut semakin mengutuk
Tiap-tiap sepi melahirkan sunyi

Pada menit empat puluh tujuh lepas dari jam satu malam
Kudapati seorang perempuan tertunduk di hadapan semesta
Mengadu, katanya.

“Hujamkan lagi, hujamkan semua belati yang kau miliki pada dada ini, kekasih.”
Langit terperanjat
Tangisku mati

Lelaki yang ia cintai adalah gigil
Pemilik tatapan selayak beer
Mencintai menjadikannya gagu
Namun, niat meninggalkan tak pernah tertuju

Cinta..
Barangkali, kali ini cinta lebih memihak pada kesedihan
Meski demikian, sayang..
Aku telah siap menjadi kesedihan paling tabah
Landasan belati dan segala nyeri paling puisi

Sebab mencintaimu, aku tak pernah takut akan pesakitan.

                                          Surabaya.

31 Desember

Tak dapat aku cipta indah puisi akhir tahun seindah puisimu akhir tahun lalu jazirahrasa
Tiap-tiap aksaranya adalah cinta
Larik demi lariknya adalah rindu
Diksinya adalah ungkapan gemuruh di kedalaman dadamu..

Kembang api dalam kepala..
Sedemikian meletup-letup puncak kemeriahan pergantian tahun dalam kepalamu
Denyar merupa phonograph, memutar lantunan lagu syahdu
Bersamaan dengan ingatan tentang perempuan masa silam
Aku cemburu..

Namun, Kekasihku..
Terlepas dari segala rajuk
Aku bahagia akan keberadaanmu
Hadiah akhir tahun dari Tuhan Menjelma rahasia-rahasia indah untuk tahun yang baru
Aku mencintaimu.

2014.